Apa Itu Teknologi Turbin Angin Cypres?

Apa Itu Teknologi Turbin Angin Cypres?

Akhir tahun lalu, GE kembali meluncurkan product turbin onshore paling baru yang diproduksi oleh LM Turbine, sebuah perusahaan GE, spesialis teknologi turbin angin global berbasis di Denmark, yang mana telah diakuisisi oleh GE Renewable Energy pada tahun 2017.

Produk bernama Cypres ini merupakan turbin skala 4 MW hingga 5 MW yang merupakan bagian peningkatan product teknologi dari seri 2 MW dan 3 MW punya GE sebelumnya.

Cypress diharapkan sanggup memfasilitasi kapasitas – kapasitas PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu) kira-kira 20 GW.

Saat ini tersedia dua jenis turbin Cypres yaitu 4,8-158 dan 5,3-158. Arti angka pertama adalah kapasitas listrik dari turbin, namun sisanya untuk diameter dan lebar bilah.

Kedua product yang menawarkan peningkatan efisiensi AEP hingga 50 persen selama umur turbin ini, telah didapuk sebagai turbin angin paling ideal untuk area PLTB yang mempunyai kecepatan angin rendah hingga menengah seperti di Indonesia.

Pete McCabe, CEO Business Onshore Wind GE mengatakan, “Prototipe Cypress 4.8-158 selagi ini sedang diproduksi di pabrik Salzbergen, Jerman.

Cypress sendiri dibangun berdasarkan rekam jejak keberhasilan teknologi turbin angin GE sebelumnya yang unggul dalam skalabilitas dan fleksibilitas.

Cypress terhitung merupakan representasi dari hasil kinerja yang fokus dan terus-menerus terhitung untuk kualitas. Produk ini bakal memungkinkan pelanggan memperoleh keunggulan di usaha PLTB. “

Bilah Revolusioner

Menyadari tantangan wilayah PLTB yang umumnya berada di area terpencil, turbin Cypress pun didesain lebih fleksibel.

Salah satu konsepnya adalah bagian bilah sanggup dibuka jadi dua sehabis selesai di produksi. Hal ini agar gampang membawanya ke wilayah PLTB. Sesampainya dilokasi, bilah lantas sanggup dirakit kembali di assembly point area PLTB.

Tak pelak, hal ini mempermudah pengiriman komponen (termasuk bilah) ke wilayah PLTB yang benar-benar terpencil sekalipun. Karena memadai sulitnya mengirim melalui jalan darat, para “transporter” umumnya mesti mensurvei pernah lebih dari satu bulan sebelum akan pengiriman dengan nantinya diakhiri “gladi kotor” pengiriman. .

“Teknologi baru ini bakal menanggulangi tantangan logistik yang selama ini jadi momok. Seperti pengiriman turbin angin ke wilayah sering terhalang jalan yang sempit. Dengan langkah ini bakal berikan akses lebih gampang ke wilayah yang sebelumnya dianggap tidak mungkin untuk dikirimkan gara-gara benar-benar merepotkan. Jadi langkah baru ini benar-benar menjanjikan,”.

Setelah sukses, cerita perihal pengiriman bilah panjang ini sering dijadikan dokumentasi dan klaim prestasi tersendiri bagi perusahaan pengirim “Dan bagi pengembang PLTB, teknologi bilah yang baru ini manfaatnya sanggup kurangi selagi sewa alat berat agar penting turunkan cost logistik,” tukas Pécresse.

Di samping itu, dengan panjang bilah berdiameter 158 meter, maka bilah lebih fleksibel untuk sesuaikan situasi dan kecepatan angin di wilayah PLTB. Bahkan sanggup meningkatkan AEP dan menopang turunkan Levelized of Electricity (LCOE).

Bilah berbahan karbon hasil penelitian, desain, dan keahlian manufaktur skala besar dari tim-tim di Bisnis Onshore Wind punya GE, Pusat Penelitian Global GE dan LM Wind Power. “Peningkatan kapabilitas bilah ini merevolusi tawaran yang sanggup kita berikan untuk pelanggan GE.

Namun mengenai teknologi baru bagi bilah ini, sebetulnya tim kita terhitung mendapat masukan metodologi desain dari pelanggan,” ungkap Duncan Berry, CEO LM Wind Power.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *